"Yaa Sayyidi Yaa Rasulullah.mp3"

Hukum mengamalkan Hizib dan memakai azimat

>> Kamis, 29 April 2010

Mengamalkan doa-doa, hizib dan memakai azimat pada dasanya tidak lepas dari ikhtiar atau usaha seorang hamba, yang dilakukan dalam bentuk doa kepada Allah SWT. Jadi sebenanya, membaca hizib, dan memakai azimat, tidak lebih sebagai salah satu bentuk doa kepada Allah SWT. Dan Allah SWT sangat menganjurkan seorang hamba untuk berdoa kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

اُدْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Berdoalah kepada Ku, niscya Aku akan mengabulkannya untukmu. (QS Al-Ghafir: 60)
Ada beberapa dalil dari hadits Nabi yang menjelaskan kebolehan ini. Di antaranya adalah:
عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأشْجَعِي، قَالَ:” كُنَّا نَرْقِيْ فِيْ الجَاهِلِيَّةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ

Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab, ”Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan.”
(HR Muslim [4079]).
Dalam At-Thibb an-Nabawi, al-Hafizh al-Dzahabi menyitir sebuah hadits:

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Apabila salah satu di antara kamu bangun tidur, maka bacalah (bacaan yang artinya) Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya, dari perbuatan jelek yang dilakukan hamba-Nya, dari godaan syetan serta dari kedatangannya padaku. Maka syetan itu tidak akan dapat membahayakan orang tersebut.” Abdullah bin Umar mengajarkan bacaan tersebut kepada anak­anaknya yang baligh. Sedangkan yang belum baligh, ia menulisnya pada secarik kertas, kemudian digantungkan di lehernya.
(At-Thibb an-Nabawi, hal 167).
Dengan demikian, hizib atau azimat dapat dibenarkan dalam agama Islam. Memang ada hadits yang secara tekstual mengindikasikan keharaman meoggunakan azimat, misalnya:
عَنْ عَبْدِ اللهِ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ الرُّقًى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَالَةَ شِرْكٌ
Dari Abdullah, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “’Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.” (HR Ahmad [3385]).
Mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar, salah seorang pakar ilmu hadits kenamaan, serta para ulama yang lain mengatakan:
“Keharaman yang terdapat dalam hadits itu, atau hadits yang lain, adalah apabila yang digantungkan itu tidak mengandung Al-Qur’an atau yang semisalnya. Apabila yang digantungkan itu berupa dzikir kepada Allah SWT, maka larangan itu tidak berlaku. Karena hal itu digunakan untuk mengambil barokah serta minta perlindungan dengan Nama Allah SWT, atau dzikir kepado-Nya.” (Faidhul Qadir, juz 6 hal 180-181)
lnilah dasar kebolehan membuat dan menggunakan amalan, hizib serta azimat. Karena itulah para ulama salaf semisal Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah juga membuat azimat.
A-Marruzi berkata, ”Seorang perempuan mengadu kepada Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal bahwa ia selalu gelisah apabila seorang diri di rumahnya. Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal menulis dengan tangannya sendiri, basmalah, surat al-Fatihah dan mu’awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas).” Al-Marrudzi juga menceritakan tentang Abu Abdillah yang menulis untuk orang yang sakit panas, basmalah, bismillah wa billah wa Muthammad Rasulullah, QS. al-Anbiya: 69-70, Allahumma rabbi jibrila dst. Abu Dawud menceritakan, “Saya melihat azimat yang dibungkus kulit di leher anak Abi Abdillah yang masih kecil.” Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menulis QS Hud: 44 di dahinya orang yang mimisan (keluar darah dati hidungnya), dst.” (Al-Adab asy-Syar’iyyah wal Minah al-Mar’iyyah, juz II hal 307-310)
Namun tidak semua doa-doa dan azimat dapat dibenarkan. Setidaknya, ada tiga ketentuan yang harus diperhatikan.
1. Harus menggunakan Kalam Allah SWT, Sifat Allah, Asma Allah SWT ataupun sabda Rasulullah SAW
2. Menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dapat dipahami maknanya.
3. Tertanam keyakinan bahwa ruqyah itu tidak dapat memberi pengaruh apapun, tapi (apa yang diinginkan dapat terwujud) hanya karena takdir Allah SWT. Sedangkan doa dan azimat itu hanya sebagai salah satu sebab saja.” (Al-Ilaj bir-Ruqa minal Kitab was Sunnah, hal 82-83).

Read more...

Keutamaan Surat Waqi’ah

>> Rabu, 28 April 2010


Surah Al-Waqi'ah (Arab: الواقعه, "Hari Kiamat") adalah surah ke-56 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 96 ayat dan termasuk golongan golongan surah Makkiyah. Surah yang diturunkan sesudah surah Ta Ha ini dinamai dengan Al Waaqi'ah (Hari Kiamat), diambil dari perkataan Al Waaqi'ah yang terdapat pada ayat pertama. Berikut kami tampilkan beberapa hadits yang menjelaskan keutamaan surat Al-Waqiah.

  1. Ubay bin Ka'b berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang membaca surat Al-Wâqi'ah, ia akan dicatat tidak tergolong pada orang-orang yang lalai." (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/203).
  2. Abdullah bin Mas'ud berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi'ah, ia tidak akan tertimpa oleh kefakiran selamanya." ." (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/203).
  3. Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata: "Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi'ah pada malam Jum'at, ia akan dicintai oleh Allah, dicintai oleh manusia, tidak melihat kesengsaraan, kefakiran, kebutuhan, dan penyakit dunia; surat ini adalah bagian dari sahabat Amirul Mukimin (sa) yang bagi beliau memiliki keistimewaan yang tidak tertandingi oleh yang lain." (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/203).
  4. Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata: "Barangsiapa yang merindukan surga dan sifatnya, maka bacalah surat Al-Waqi'ah; dan barangsiapa yang ingin melihat sifat neraka, maka bacalah surat As-Sajadah." (Tsawabul A'mal, hlm 117).
  5. Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: "Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi'ah sebelum tidur, ia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan wajahnya seperti bulan purnama." (Tsawabul A'mal, halaman 117).

Read more...

Do’a Setelah Membaca Surat Al-Waqi’ah

اَللَّهُمَّ صُنْ وُجُوْهَنَا بِاْليَسَارِ,وَلاَتُوهِنَّابِاْلاِقْتَارِ , فَنَسْتَرْزِقَ طَالِبِيْ رِزْقِكَ وَنَسْتَعْطِفَ شِرَارَخَلْقِكَ وَنَشْتَغِلَ بِحَمْدِ مَنْ اَعْطَانَاوَنُبْتَلَى بِذَمِّ مَنْ مَنَعَنَاوَاَنْتَ مِنْ وَرَاءِذَلِكَ كُلِّهِ اَهْلُ اْلعَطَاءِ وَاْلمَنْعِ . اَللَّهُمَّ كَمَاصُنْتَ وُجْوُ هَنَاعَنِ السُّجُوْدِاِلاَّلَكَ . فَصُنَّاعَنِ اْلحاَجَةِاِلاَّاِلَيْكَ بِجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ وَفَضْلِكَ , يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ (ثالاثا) اَغْنِنَابِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ . وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ . وَهَبْ لَنَا بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَاَلِهِ وَسَلَّمَ مِنْ رِزْقِكَ اْلحَلاَلِ الطَّيِّبِ اْلمُبَارَكِ مَاتَصُوْنُ بِهِ وُجُوْهَنَاعَنِ التَّعَرُّضِ اِلَى اَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ وَاجْعَلِّ اللَّهُمَّ لَنَااِلَيْهِ طَرِيْقًاسَهْلاًمِنْ غَيْرِفِتْنَةٍوَلاَمِحْنَةٍوَلاَمِنَّةٍوَلاَتَبِعَةٍلاِحَدٍ ، وَجَنِّبْنَا اللَّهُمَّ اْلحَرَامَ حَيْثُ كَانَ وَاَيْنَ كَانَ وَعِنْدَ مَنْ كَانَ وَ حُلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ اَهْلِهِ وَاقْبِضْ عَنَّااَيْدِيَهُمْ وَاصْرِفْ عَنَّاوُجُوْهَهُمْ وَقُلُوْبَهُمْ حَتَّى لاَنَتَقَلَّبَ اِلاَّفِيْمَا يٌرْضِيْكَ وَلاَنَسْتَعِيْنَ بِنِعْمَتِكَ اِلاَّفِيْمَاتُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ ِبرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .
اَللَّهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقُنَافِى السَّمَاءِفَاَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَاَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًافَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًافَقَرِّبْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًافَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ قَلِيْلاًفَكَثِّرْهُ وَاِنْ كَانَ مَعْدُوْمًافَاَوْجِدْهُ وَاِنْ كَانَ مَوْقُوْفًافَاَجْرِهِ وَاِنْ كَانَ ذَنْبًافَاغْفِرْهُ , وَاِنْ كَانَ سَيِّئَةًفَامْحُهَاوَاِنْ كَانَ خَطِيْئَةًفَتَجَاوَزْعَنْهَاوَاِنْ كَانَ عَثْرَةًفَاَقِلْهَاوَبَارِكْ لَنَا فِى جَمِيْعِ ذَلِكَ.اِنَّكَ مَلِيْكٌ مُقْتَدِرٌوَمَاتَشَاؤُهُ مِنْ اَمْرٍيَكُوْنُ (سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِعَمَّايَصِفُنَ . وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ .

Read more...

Keutamaan Surat Al-Ikhlas

>> Selasa, 27 April 2010

Abu Sa'id Al-Khanafi menerangkan: Surah ini dinamakan Surah Al-Ikhlas,artinya bersih atau pas. Maka barangsiapa yg membacanya dan mengamalkannya dg hati yg ikhlas maka ia dilepaskan kesusahan - kesusahan duniawi, dimudahkan didalam gelombang sakaratilmaut, dihindarkan dari kegelapan kubur dan kengerian hari kiamat.

Dalam beberapa hadits dikatakan bahwa Nabi Muhammad bersabda bahwa pahala membaca sekali surah Al-Ikhlas sama dengan membaca sepertiga Al-Qur'an sehingga membaca 3 kali surah ini sama dengan mengkhatam Al-Qur'an. Kisah terkait hadits itu terekam dalam beberapa kisah. Seperti kisah ketika Nabi bertanya kepada sahabatnya untuk mengkhatam Al-Qur'an dalam semalam. Umar menganggap mustahil hal itu, namun begitu Ali menyanggupinya. Umar kemudian menganggap Ali belum mengerti maksud Nabi karena masih muda. Ali kemudian membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 3 kali dan Nabi Muhammad membetulkan itu. Dalam hadits-hadits terkait hal ini, keutamaan surah Al-Ikhlas sangat memiliki peran dalam Al-Qur'an sehingga sekali membacanya sama dengan membaca sepertiga Al-Qur'an.

Riwayat Anas bin Malik juga merekam kisah berkaitan surah Al-Ikhlas yaitu dimana 70.000 malaikat diutus kepada seorang sahabat di Madinah yang meninggal hingga meredupkan cahaya matahari. 70.000 malaikat itu diutus hanya karena ia sering membaca surah ini. Dan karena banyaknya malaikat yang diutus, Anas bin Malik yang saat itu bersama Nabi Muhammad di Tabuk merasakan cahaya matahari redup tidak seperti biasannya dimana kemudian malaikat Jibril datang memberitakan kejadian yang sedang terjadi di Madinah.

Dalam riwayat Ibnu Abbas disebutkan Nabi Muhammad ketika melakukan Isra' ke langit, melihat Arsy di atas 360.000 sendi dimana jarak antar sendi 300.000 tahun perjalanan. Pada tiap sendi terdapat padang Sahara sebanyak 12.000 dan luas tiap satu padang sahara itu adalah dari timur ke barat. Pada setiap padang Sahara itu juga terdapat 80.000 malaikat dimana setiap malaikat membaca surah Al-Ikhlas dan setelah membaca itu mereka berdoa agar pahala mereka diberikan kepada orang yang membaca al-Ikhlas, laki-laki maupun perempuan.

Selain itu Nabi Muhammad juga pernah berkata bahwa Qul Huwallahu Ahad (ayat 1) tertulis pada sayap Jibril, Allahus Shamad (ayat 2) pada sayap Mikail, Lam Yalid Walam Yuulad (ayat 3) pada sayap Izrail, dan Walam Yaqullahu Khufuwan Ahad (ayat 4) pada sayap Israfil. Dan yang membaca al-Ikhlas memperoleh pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur'an. Lalu berkaitan sahabat, Nabi pernah berkata bahwa Qul Huwallahu Ahad (ayat 1) tertulis pada dahi Abu Bakar, Allahus Shamad (ayat 2) pada dahi Umar, Lam Yalid Walam Yuulad (ayat 3) pada dahi Utsman, dan Walam Yaqullahu Khufuwan Ahad (ayat 4) pada dahi Ali.(kitab Hayatun Quluubi)

Sedangkan hadits lain menyebutkan bahwa ketika orang membaca al-Ikhlas ketika sakit hingga ia meninggal, ia tidak membusuk dalam kubur dan akan dibawa malaikat dengan sayapnya melintasi Siratul Mustaqim menuju surga.(kitab Tadzikaratul Qurthubi)

Riwayat dari Sayyidina 'Ali r.a.: Siapa membaca Suratul Ikhlas sebanyak 11 kali sesudah shalat shubuh,maka syaitan tidak akan dapat menggodanya untuk berbuat dosa,meskipun syetan itu dg sungguh2 hendak menggodanya pada hari itu.

Sayyidah 'Aisyah menerangkan'"Dari nabi Muhammad SAW 'siapa membaca sesudah selesai shalat Jum'at,surat Al-Fatihah 7 kali,surat Al-Ikhlas 7 kali,surah Al-Falaq 7 kali dan surah An-Nass,maka Allah SWT akan melindunginya dari kejahatan sampai kehari Jum'at yg akan datang' ".

Dari Sayyidina 'Ali r.a. dari Rasulullah: "Siapa hendak pergi musafir,kemudian ketika hendak meninggalkan rumahnya ia membaca surah Ikhlas 11 kali,maka Allah SWT memeliharakan rumahnya sampai ia kembali".

Sayyidina Anas menerangkan dari Rasulullah SAW: "Siapa membaca Suratul Ikhlas 30 kali,maka Allah SWT akan menulis barakah,selamat dari api neraka dan aman dari adzab pada hari kiamat".

Imam Sayuthi menerangkan dalam kitabnya "Addurrul Mantsur",riwayat dari Ibnu 'Abbas bahwa Rasulullah SAW telah mengatakan: "Siapa ada hajad hendaklah berwudhu dan shalat 4 rakaat dg sekali salam. -Rakaat pertama membaca Fatihah sekali dan surah Ikhlas 11 kali. -Rakaat kedua membaca Fatihah sekali dan surah Ikhlas 21 kali. -Rakaat ketiga membaca Fatihah sekali dan surah Ikhlas 30 kali. -Rakaat keempat membaca Fatihah sekali dan surah Ikhlas 41 kali. Apabila sudah salam,sebelum berkata-kata membaca: -Surah Ikhlas 50 kali. -Shalawat atas nabi 50 kali. -Istighfar 50 kali. -Laa khaula walaa quwwata illaa billahil aliyil adhiim 50 kali.

Read more...

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP